Kamis, 30 Agustus 2012


Kado Cinta Ani



Udara pagi yang sejuk kembali menyapa , mentari pun tidak ragu untuk menampakkan kehangatannya menyinari bumi ini. Burung-burung dengan manja mendendangkan lagu cinta mengitari petani-petani yang sedang berladang di kebunnya, daun-daunpun tidak mau kalah, mereka turut berpartisipasi menari-nari dengan dendangan gendang yang dibunyikan angin. Semuanya seperti mengabarkan akan kebesaran Sang Pencipta. Pemandangan yang begitu menyejukan hatiku sambil terus memikirkan kebesaran-kebesaran Tuhan di alam semesta.
Tiba-tiba suara teriakan dari halaman depan sontak membangunkanku dari lamunan, teriakan yang mengisyaratkan awalnya perjalananku untuk jauh dari keluargaku, terutama bunda.
“Ani......!!!” teriak ayah dengan nada tinggi.
Iyah ayah, ada apa?” Sahutku yang kaget dengan panggilan ayah yang tidak pernah semarah itu, kecuali ada hal yang benar-benar membuat ayah marah.
Sini kamu! Apa-apaan ini? Ayah sudah bilang kamu harus melanjutkan kuliah di Universitas kedokteran! Terus apa ini, kenapa kamu masih mendaftarkan diri di jurusan sastra! Kamu mau jadi anak pembangkang yang tidak mau menuruti ayah kamu! Keterlaluan kamu!” Bentak ayah dengan marah-marah yang membuat bunda terbangun.
 Bunda adalah satu-satunya orang yang paling dekat dan mengerti perasaanku. Tetapi, semenjak 3 tahun yang lalu bunda tidak bisa menjalani aktivitas seperti biasa, karna penyakit yang beliau derita.
Ada apa ini, kenapa pagi-pagi sudah ribut-ribut begini?” Suara ibu terdengar di balik pintu.
Lihat kelakuan anakmu ini, sudah berapa kali ayah bilang dia tidak boleh masuk sastra. Mau jadi apa dia kalau udah selesai kuliah! Mau jadi pengamen jalanan atau penulis yang hidupnya lontang-lantung tidak karuan!”
“ ayah, dengerin  Ani dulu...” Sahutku dengan mata yang berlinang airmata, mencoba menjelaskan.
Apa yang mau di dengar lagi! Ini juga gara-gara kamu yang suka manjain anak ini, jadi  dia ngelunjak kaya gini.” Bentak ayah.
Cukup yah, jangan bawa-bawa Bunda dalam masalah ini. Ini murni keputusan Ani, tidak ada sangkut pautnya dengan Bunda.”
Tetapi itulah ayah, alasan apapun yang diberikan baginya sekali salah maka tetap salah. Apalagi itu berhubungan dengan prinsip hidupnya. Akhirnya perdebatan itu berakhir dengan keputusan ayah yang mengusirku dari rumah dan itu adalah hari yang paling buruk , hari yang tidak pernah aku bayangkan bahkan terlintas dibenakku sekalipun, hidup jauh dari bunda dan meninggalkannya dalam keadaan sakit.
***
Malam itu keadaan gelap gulita. angin yang menusuk sukma, awan hitam turut adil menyelimutinya seiring derasnya hujan bak air terjun dari pegunungan dan kilatan petir yang menyambar-nyambar dengan suara yang menggelegar bak raksasa yang sedang murka. Mentari pun tak kuasa menahan kemarahan alam sehingga bersembunyi dibalik atap  bumi yang menghitam.
Kolaborasi antara hujan, petir, dinginnya angin, gelap, dan sunyi pun membuat bumi seakan tak bergravitasi, dunia tak menyapa, suara jangkrikpun tak mengekrik,kelelawar tak keluar, bintang tak gemerlang, bahkan burung hantupun tak mau hinggap di pohon.
Hanya airmata yang mengalir sederas air hujan yang turun malam ini, yang turut menjadi saksi hancurnya hati yang dihadapkan dua pilihan yang sulit aku tentukan antara keluarga dan cita-citaku. Saat ini tidak ada yang aku fikirkan selain keadaan bunda di rumah. Gimana keadaannya sekarang, apakah bunda sudah makan? Apakah ada yang mengurusi keperluannya saat ayah kerja? Apakah bunda ada yang menemani kesunyiannya?. Pertanyaan demi pertanyaan terus berdesakan dalam benakku.
Tiba-tiba suara lembut menyadarkanku dari lamunan.
“Sudah toh ndok, inikan pilihan hidupmu, sekarang yang bisa kamu lakukan adalah belajar dengan sungguh-sungguh. Kejar cita-citamu, tunjukan pada ayahmu kalau pilihan kamu itu adalah yang terbaik bagi hidupmu.” Kata wanita paruh baya itu.
Tapi nek,..” belum sempat kata-kata itu selesai tangisku meledak saat itu dan nenek langsung memelukku mencoba untuk menenangkan perasaanku yang saat ini sedang kacau.
Menangislah sayang, jika memang dengan tangisan perasaanmu bisa tenang.”
Akupun mencoba menghentikan tangisku,walau isakan itu masih terasa sekali dalam setiap kata yang aku ucapkan. Tapi, terus ku mencoba mengungkapkan kegundahan hatiku kepada nenekku karna mungkin hanya dengan beliau aku bisa membagi semua beban yang sedang aku rasakan saat ini.
Nenek mengerti sayang, kamu sangat mencintai Bundamu. tetapi, bukankah ini adalah pilihan yang sudah kamu ambil? Nenek yakin dengan seiring berjalannya waktu ayahmu pasti mengerti kalau anaknya ini sudah dewasa dan sudah dapat menentukan pilihannya, yang harus kamu lakukan adalah melakukan yang terbaik untuk membuktikan kepada ayahmu bahwa kamu mampu sukses dengan pilihan yang kamu ambil.” ucap nenek mencoba dengan bijak.
****
Sejak kejadian malam itu aku berjanji untuk bersungguh-sungguh dalam belajar. Aku bertekad untuk meraih prestasi sebanyak-banyaknya dan itu terwujud tiga tahun sudah berlalu. Aku mendapatkan berbagai macam penghargaan dari lomba puisi, membuat cerpen, dan novelku pun sudah banyak beredar di pasaran. Tetapi sayang semua yang aku raih itu hampa karna selama tiga tahun aku menjalani hidup tanpa cinta dari Ayah dan Bunda bahkan nenek yang selama ini menemaniku pergi meninggalkanku sejak 2 tahun yang lalu.
“ Ni, selamat ya novel kamu laris di pasaran.” Ucap Lily salah satu temanku.
Makasih yah , tapi ini tidak ada artinya semuanya sama saja, ayah tetap tidak mau ketemu denganku Li, bahkan aku tidak pernah di izinkan bertemu dengan Bunda.” Ucapku tak bersemangat.
Sabar ya Ni, aku yakin pasti semuanya akan ada jalannya kok?!” Jawab lily mencoba menenangkan.
“ Aku tidak yakin Li.” Jawabku lirih.
“Kok kamu jadi pesimis gini? Mana Ani yang aku kenal dulu.”
“Kamu tahu sekarang aku hidup sendiri, nenek yang selalu mendukungku sudah pergi untuk selamanya. Aku sudah tidak punya siapa-siapa Li!!!.”
“ Sabar yah Ni, sebagai seorang teman aku bangga sama kamu walau ujian yang menimpa kamu tidak ada henti, tetapi kamu masih bisa berprestasi bahkan kamu adalah salah satu mahasiswi yang berhasil mengambil semester pendek dengan segudang prestasi. Kalau aku jadi kamu, entah apa yang mungkin akan terjadi sama diriku ini.” Terang Lily panjang lebar.
“ Jangan memuji aku seperti itu, aku jadi geer nie?” Sambil tersenyum.
“ Aku tidak muji kok, kamu kan tahu aku paling anti memuji orang kalau tidak kebenarannya seperti itu.” Timpal Lily.
Perbincanganpun terus berlanjut dengan angin yang datang sepoi-sepoi dibawah  pohon rindang depan kampus ikut mendukung suasana siang itu, tawa dan canda ikut mengiringi kebersamaan dua sahabat itu. Tiba-tiba terlontar pertanyaan yang sontak mengagetkan Ani dan mampu membuat gadis berlesung pipi itu terdiam tak berdaya.
“Ni, kapan kamu mau cari pasangan hidupmu?”
“Maksud kamu apa Li?” tanyaku dengan wajah yang tersontak kaget.
“Maksudku, sudah jelas Ni,  jangan gara-gara mengurusi kariermu lantas kamu mengabaikan kehidupan pribadimu. Kamu juga perlu pendamping Ni! Emangnya kamu mau jadi PERAWAN TUA! Umur kamu kan sudah 22 tahun, mau nunggu berapa tahun lagi, sampai sekarang kamu belum perna dekat dengan seorang laki-lakipun “ ledek Lily sambil ketawa.
Sesaat aku terdiam, aku sadar selama ini aku terlalu fokus untuk mengurus karier dan hubunganku dengan ayah. Mendengar kata ayah, aku pun langsung teringat dengan bunda. Ya... Allah, bagaimana keadaan bunda sekarang. Semoga Engkau menjaganya, apakah bunda sudah sehat?!
“ Hai, kok malah melamun ditanya tentang jodoh? Kok, malah jadi sedih begini!. Jangan khawatir non, selama ini mahasiswa baru itu suka merhatiin kamu lho, orangnya ganteng, tajir lagi?” sambil tersenyum.
“ Apaan sih kamu Li, sekarang itu bukan waktunya memikirkan masalah yang tidak penting seperti itu!! Masih banyak yang mesti aku fikirkan! Sudahlah aku mau pulang dulu, aku mesti menyelesaikan skripsiku belum lagi aku mesti membuat ucapan terimakasi buat novel terbaruku.”
“ Assalamu’alaikum.” Sambil beranjak pergi.
“Tapi... anak itu!!!.” Dengan wajah jengkel.
“ Wa’alaikum salam.” Sambung Lily yang masih jengkel.
****
Rumah ini masih seperti dua tahun yang lalu saat nenek masih hidup yang membedakan hanya sarang laba-laba yang memenuhi pojok-pojok ruangan ini. Aku memang sudah tidak pernah mengunjungi rumah ini, sejak kepergian nenek. Aku memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus.
Tak terasa air mataku menetes saat aku menatap foto nenek yang terpajang di dinding ruang tamu yang kini kusam dengan debu.
“Nek, kenapa nenek secepat itu meninggalkanku, nek? Nenek tahu hidup yang Ani jalani terasa berat dan hampa, andaikan nenek masih ada disini Ani ingin mendengarkan nasehat-nasehat nenek seperti dulu. Saat Ani capek dengan jalan hidup ini, nenek selalu memelukku dan memberikan nasehat yang membuat Ani semangat lagi dalam menjalani kehidupan yang tidak adil ini! Ani kangen dengan masa-masa itu nek....!!!” tangisku pun meledak dan tanpa terasa aku sudah menangis selama setengah jam tanpa henti.
Aku baru tersadar saat ada suara yang mengetuk pintu dari luar dibarengi dengan suara salam yang lantang dan tiada henti.
“ Assalamu’alaikum, apa didalam ada orang?”
Aku segera menghampiri suara itu sambil menghapus air mata yang membasahi wajahku dari tadi. Untuk memastikan siapakah gerangan yang mengetuk pintu begitu keras dan tiada henti.
“ Wa’alaikum salam, iya sebentar.” Sahutku dari dalam.
Sungguh sangat mengejutkan teryata orang yang mengetuk pintu adalah Dika anak baru di kampusku yang belakangan menjadi banyak perbincangan hampir semua wanita di kampus.
“ Maaf, ada yang bisa saya bantu, mas?” tanyaku pura-pura tidak mengenal.
“ Oh... mobil yang di halaman rumah almarhumah nenek Lasmi itu punyanya mba Ani toh?” jawab pemuda itu dengan muka memerah.
Aku hanya bisa diam melihat wajahnya, saat pemuda itu menyebutkan namaku dan yang lebih mengejutkankan dia tahu nama nenekku.
“Mba... Mba..!!!” suara itu mengagetkanku
“Yah... Maaf mas, tadi tanya apa yah?” dengan mengerutkan dahi.
“  Maaf mba, kalau boleh saya tahu mba ini ada perlu apa dan ada hubungan apa sama nek Lasmi?”
“ Oh... Saya cucunya, kalau boleh saya tahu kamu tahu nama aku dan kenal dengan nenek aku dari mana yah?”
“Oh... jadi mba Ani itu cucunya nek Lasmi?”
“Jangan panggil aku mba dong, cukup Ani saja. Tapi kamu belum jawab pertanyaanaku yang tadi.”
“Maaf mba, maksudku Ani.” Dengan pipih yang memerah.
“Iya, tidak apa-apa.” Sahutku.
“Oh... kenalkan mba, ehm... maksudku Ani. Namaku Dika Prasetya, aku teman satu kampus kamu. Wajar kalau kamu tidak mengenalku, karna aku mahasiswa baru di kampusmu. Tapi, bukan hal yang sulit untuku mengenalmu, kamu ini kan salah satu mahasiswi yang populer di kampus dengan segudang prestasi yang kamu raih. Kamu juga penulis yang hebat, aku adalah salah satu penggemar karya-karyamu.” Jelas pemuda itu panjang lebar.
“Sudah-sudah, jangan memuji aku berlebihan seperti itu. Nanti lama-lama aku bisa terbang lagi.” Celotehku.
Pemuda itu hanya tersenyum dengan celotehanku yang dihiasi sedikit lesung yang menghiasi pipinya.
“Lebih baik kamu jelasin sama aku, dari mana kamu kenal dengan nenekku?” tanyaku semakin penasaran.
“Oh... masalah nek Lasmi, aku mengenal beliau udah lama. Rumahku di depan rumah ini diseberang jalan itu.” Jelas pemuda itu.
“Tapi.., kok aku baru melihat kamu yah?” Sahutku menyelidik.
“Iya Ni, saya memang baru pulang dari Surabaya. Saat nek Lasmi meninggal saya sedang kuliah disana, baru satu tahun saya kembali lagi ke Serang dan akhirnya saya pindah ke kampus kamu. Saya juga kaget saat mendengar bahwa nek Lasmi sudah meninggal. Beliau sudah saya anggap seperti nenek saya sendiri. Saya sangat menyesal tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Saya sudah lama mencoba masuk rumah ini untuk membersihkannya dari debu-debu. Akan tetapi, rumah ini dikunci dan dari keterangan beberapa tetangga disini katanya ada kemungkinan cucu yang satu tahun tinggal bersamanya yang membawa kuncinya. Dan sungguh saya sangat senang ketika ada moil yang terlihat di halaman rumah ini. saya sudah membayangkan kalau cucu nek Lasmi datang dan sungguh sangat terkejut saat saya mengetahui bahwa yang didalam itu adalah kamu. Jadi kamu itu cucunya nek Lasmi?”Jelasnya panjang lebar.
Disaat pemuda itu menjelaskan aku baru sadar kenapa gadis-gadis itu begitu mengagumi sosok pemuda ini. Teryata disamping mempunyai wajah yang cute dia juga pemuda yang sopan dan kelihatannya berasal dari keluarga yang baik-baik.
“Ani...” Suara itu mengagetkanku.
“Iya..” Jawabku singkat.
“Kamu kenapa?” Tanyanya heran.
“Tidak kenapa-napa kok!” Jawabku meyakinkan.
Perbincangan pun terus berlanjut dan aku mengetahui banyak tentang nenekku dari lelaki itu. Aku tidak menyangka kalau dia lebih dekat dengan nenekku dan mengetahui semuanya dibandingkan dengan aku sebagai cucunya. Dia mengetahui mulai dari makanan favorit sampai kebiasaan-kebiasaan yang nenekku lakukan. Akhirnya disela-sela perbincangan, Dika mengajakku untuk membereskan dan membersihkan rumah nenek dan sungguh kerjasama yang baik akhirnya dalam dua jam rumah nenek sudah seperti rumah baru tanpa noda dan debu sedikitpun.
“Ehm... aku baru tahu teryata kamu punya bakat dalam bersih-bersih juga yah?” Ucapku memuji.
“ Ah... tidak juga kok Ni, ini kan juga berkat kamu. Kamu yang hebat selain cantik, pintar juga pandai dalam mengurusi rumah.” Puji pemuda itu balik.
“ Tadi kamu bilang apa?” Tanyaku kaget.
“Ehm... tidak kok, tadi aku Cuma bilang kalau kamu adalah perempuan yang luar biasa.” Jelasnya dengan nada meyakinkan.
“Tapi, terimakasih yah atas waktunya.” Dengan senyum yang mengembang.
“ Iya, sama-sama.” Sambil senyum.























Tidak ada komentar:

Posting Komentar