Pentingnya Pendidikan Nilai Budaya Timur
Membaca
judul diatas, anda mungkin bertanya mengapa harus ditekankan kata “penting”, dan kenapa harus budaya timur
yang dibahas?. Judul diatas saya pakai karna melihat dan merasakan keresahan
yang sama seperti yang dirasakan oleh orangtua dan masyarakat sekarang.
Indonesia dikenal dengan negara yang menganut sistem budaya timur. Budaya timur
adalah budaya yang kental dengan etika, kesopanan dan moral yang tinggi. Akan
tetapi, kita lihat generasi muda zaman sekarang seperti sudah tidak mengenal
kata etika dan kesopanan. Yang lebih menyakitkan etika dan kesopanan bagi
mereka dianggap kuno dan atau ketinggalan zaman. Padahal seperti kita ketahui
bahwa negara kita dibangun atas dasar kesopanan dan budi pekerti yang luhur, yang terkandung dalam
UUD 1945.
Kenyataannya
sekarang, sungguh miris rasanya sebagian besar anak-anak dan remaja yang
seharusnya menjadi aset bangsa sebagai penerus pembangunan negri ini, justru
banyak melakukan perbuatan- perbuatan tak bermoral. Seperti terjerat Narkoba,
tindakan asusila, kriminalitas, dan tawuran. Sekarang marak dilakukan oleh
anak-anak dan remaja. Seperti yang sering kita lihat di tayangan televisi,
banyak remaja tawuran menggunakan seragam sekolah, Anak SD yang ditangkap
POLRESTA akibat melakukan tindakan asusila terhadap teman sebayanya, dan masih
banyak lagi kenyataan-kenyataan yang semakin membuat kita gigit jari. Bila
kondisi seperti ini terus berkelanjutan mau dibawah kemana masa depan bangsa
kita???. Inikah potret budaya timur masa kini? Yang dulu terkenal dengan etika
dan kesopana?. Dikemanakan moral
bangsa?. Mungkin pertanyaan semacam itu terus muncul dalam benak setiap
individu.
Indonesia
adalah negara yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Akan tetapi,
justru Indonesia adalah negara yang banyak melakukan tindakan amoral. Bisa kita
lihat mulai dari pejabat negara sampai anak-anak turut berperan andil
melakukanya. Pertama, pejabat negara yang diharapkan dapat menyalurkan aspirasi
rakyat justru marak melakukan KKN (korupsi, kolusi dan
nepotisme). Yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya
baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan
banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan
tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Sehingga kapan krisis multidimensi
ini akan berakhir? Sepertinya, belum ada tanda-tandanya.
Kedua, masalah remaja, berdasarkan data
yang masuk ke KPAI bahwa lebih dari 70 persen pengidap HIV/AIDS adalah generasi
muda usia produktif, yang tertular melalui prilaku seks bebas. Perilaku seks
bebas bisa dikatakan berlangsung lebih terbuka dan tanpa kenal malu dikalangan
remaja. Sebuah data yang telah dirilis dari Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) cukup mengejutkan kita sebagai bangsa yang memiliki
budaya timur serta menjunjung tinggi nilai moral dan agama. Data hasil survei
tahun 2010, menunjukkan bahwa sebanyak 51 persen remaja di sekitar wilayah
Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah melakukan
seks pernikahan. Itu berarti bahwa setiap 100 remaja, 51 orang dinyatakan sudah
tidak perawan lagi. Selanjutnya hasil survei terhadap beberapa wilayah lain di
Indonesia, seks pernikahan juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di
Surabaya tercatat 54%, di Bandung 47%, dan 52% di Medan. Kemudian hasil
penilitian di Yogyakarta dari 1.160 mahasiswi, sekitar 37% diantaranya
mengalami married by accident alias kehamilan sebelum menikah. Sementara
penderita HIV/AIDS juga terus meningkat setiap tahunnya
(www.gomuslimah.multiply). Jika kita lihat survei dari Universitas negri atau
swasta bisa dilihat 15 persen dari 2.224 mahasiswa di Universitas negeri dan
swasta telah biasa melakukan seks diluar nikah. Dari 15 persen tersebut,
sekitar 1 sampai 2 persennya melakukan aborsi. Tutur salah satu Koordinator
Kesehatan Reproduksi Jaringan Epidomologi Nasional, (Prof. Charles Surjadi). Masalah
ini tentunya sangat memprihatinkan bagi kita semua dan tidak menutup
kemungkinan akan melahirkan sebuah generasi penganut kebebasan yang pada
akhirnya memicu terjadinya lost generation.
Beberapa
hari lagi adalah hari dimana diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Akan
tetapi, apakah benar negara kita sudah bangkit dari penjajahan?, sudahka
menerapkan pendidikan yang nasional dan bermoral?. Yah, negara kita sudah tidak
dijajah secara fisik. Akan tetapi, kita dijajah secara moral!. Apakah
peringatan hari-hari besar hanya sekedar nama
tanpa arti?. Tanpa makna?. Bahkan peringatan hanya dijadikan ajang
ceremony. Pendidikan
nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan
nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral,
mandiri, matang, dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur,
berperilaku santun, tahu malu, mandiri dan tidak arogan serta mementingkan
kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. sehingga mereka tidak lagi
bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan
pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan
kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu
bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara
lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.
Dengan kata lain, jika kita menginginkan
generasi penerus yang mempunyai kepribadian budaya timur yang bermoral. Maka, proses pendidikanpun harus diolah oleh pendidik
yang memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang
pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan
kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin
plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau
pendidik mulai dari guru SD sampai PT ( Perguruan Tinggi ) memiliki sifat-sifat
seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini. Semua pejabat
yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif pun harus
berbenah diri dan memberi contoh terlebih dahulu. Bagaimana caranya bersifat
jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral,
tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi
atau kelompok kepada generasi muda saat ini.
Karena, mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan
dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli
obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim
pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan
korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan
bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong
dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung
mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa
pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti
luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta
mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan
salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah
lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah
pejabat lakukan terhadap bangsa ini. (www. re-searchengines.com)
Selanjutnya, semua pejabat di negara ini
mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada
rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana
negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang.
Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini,
nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah
diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV
ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang
tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana
mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau
tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada
kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan
berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan
mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku
yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten.
Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah
orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?
Dengan demikian, apabila kita ingin
mencetak generasi penerus yang mempertahankan karakteristik Budaya Timur. Yaitu
mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang
terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan
yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk
berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun,
bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa
bukan pribadi atau kelompok.
Tetapi, jika para pemimpin bangsa ini
tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai
sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di
legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk
petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok
sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia
memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini
kedepan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar