Kamis, 30 Agustus 2012


Pentingnya Pendidikan Nilai Budaya Timur




Membaca judul diatas, anda mungkin bertanya mengapa harus ditekankan kata “penting”, dan kenapa harus budaya timur yang dibahas?. Judul diatas saya pakai karna melihat dan merasakan keresahan yang sama seperti yang dirasakan oleh orangtua dan masyarakat sekarang. Indonesia dikenal dengan negara yang menganut sistem budaya timur. Budaya timur adalah budaya yang kental dengan etika, kesopanan dan moral yang tinggi. Akan tetapi, kita lihat generasi muda zaman sekarang seperti sudah tidak mengenal kata etika dan kesopanan. Yang lebih menyakitkan etika dan kesopanan bagi mereka dianggap kuno dan atau ketinggalan zaman. Padahal seperti kita ketahui bahwa negara kita dibangun atas dasar kesopanan dan  budi pekerti yang luhur, yang terkandung dalam UUD 1945.
Kenyataannya sekarang, sungguh miris rasanya sebagian besar anak-anak dan remaja yang seharusnya menjadi aset bangsa sebagai penerus pembangunan negri ini, justru banyak melakukan perbuatan- perbuatan tak bermoral. Seperti terjerat Narkoba, tindakan asusila, kriminalitas, dan tawuran. Sekarang marak dilakukan oleh anak-anak dan remaja. Seperti yang sering kita lihat di tayangan televisi, banyak remaja tawuran menggunakan seragam sekolah, Anak SD yang ditangkap POLRESTA akibat melakukan tindakan asusila terhadap teman sebayanya, dan masih banyak lagi kenyataan-kenyataan yang semakin membuat kita gigit jari. Bila kondisi seperti ini terus berkelanjutan mau dibawah kemana masa depan bangsa kita???. Inikah potret budaya timur masa kini? Yang dulu terkenal dengan etika dan kesopana?.  Dikemanakan moral bangsa?. Mungkin pertanyaan semacam itu terus muncul dalam benak setiap individu.
Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam. Akan tetapi, justru Indonesia adalah negara yang banyak melakukan tindakan amoral. Bisa kita lihat mulai dari pejabat negara sampai anak-anak turut berperan andil melakukanya. Pertama, pejabat negara yang diharapkan dapat menyalurkan aspirasi rakyat justru marak melakukan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Sehingga kapan krisis multidimensi ini akan berakhir? Sepertinya, belum ada tanda-tandanya.
Kedua, masalah remaja, berdasarkan data yang masuk ke KPAI bahwa lebih dari 70 persen pengidap HIV/AIDS adalah generasi muda usia produktif, yang tertular melalui prilaku seks bebas. Perilaku seks bebas bisa dikatakan berlangsung lebih terbuka dan tanpa kenal malu dikalangan remaja. Sebuah data yang telah dirilis dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) cukup mengejutkan kita sebagai bangsa yang memiliki budaya timur serta menjunjung tinggi nilai moral dan agama. Data hasil survei tahun 2010, menunjukkan bahwa sebanyak 51 persen remaja di sekitar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah melakukan seks pernikahan. Itu berarti bahwa setiap 100 remaja, 51 orang dinyatakan sudah tidak perawan lagi. Selanjutnya hasil survei terhadap beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pernikahan juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di Surabaya tercatat 54%, di Bandung 47%, dan 52% di Medan. Kemudian hasil penilitian di Yogyakarta dari 1.160 mahasiswi, sekitar 37% diantaranya mengalami married by accident alias kehamilan sebelum menikah. Sementara penderita HIV/AIDS juga terus meningkat setiap tahunnya (www.gomuslimah.multiply). Jika kita lihat survei dari Universitas negri atau swasta bisa dilihat 15 persen dari 2.224 mahasiswa di Universitas negeri dan swasta telah biasa melakukan seks diluar nikah. Dari 15 persen tersebut, sekitar 1 sampai 2 persennya melakukan aborsi. Tutur salah satu Koordinator Kesehatan Reproduksi Jaringan Epidomologi Nasional, (Prof. Charles Surjadi). Masalah ini tentunya sangat memprihatinkan bagi kita semua dan tidak menutup kemungkinan akan melahirkan sebuah generasi penganut kebebasan yang pada akhirnya memicu terjadinya lost generation.
Beberapa hari lagi adalah hari dimana diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Akan tetapi, apakah benar negara kita sudah bangkit dari penjajahan?, sudahka menerapkan pendidikan yang nasional dan bermoral?. Yah, negara kita sudah tidak dijajah secara fisik. Akan tetapi, kita dijajah secara moral!. Apakah peringatan hari-hari besar hanya sekedar nama  tanpa arti?. Tanpa makna?. Bahkan peringatan hanya dijadikan ajang ceremony. Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang, dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu, mandiri dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.
Dengan kata lain, jika kita menginginkan generasi penerus yang mempunyai kepribadian budaya timur yang bermoral. Maka,  proses pendidikanpun harus diolah oleh pendidik yang memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik. Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu, tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT ( Perguruan Tinggi ) memiliki sifat-sifat seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini. Semua pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif pun harus berbenah diri dan memberi contoh terlebih dahulu. Bagaimana caranya bersifat jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi muda saat ini. Karena, mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan, melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini. (www. re-searchengines.com)
Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran, radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita selama ini?
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mempertahankan karakteristik Budaya Timur. Yaitu mandiri, bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.
Tetapi, jika para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara. Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan untuk membangun bangsa ini kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar